Sabtu, 19 Mei 2012

BOY

Diposting oleh PeriAi di 22.32

“Cuih…!!!”
Tiba-tiba saja Papa meludahkan makanannya saat kami sekeluarga sedang makan malam bersama di rumah, “Makanan apa sih ini Ma?” Papa berteriak protes pada Mama. Mama mencoba tersenyum dan menyodorkan segelas air putih pada Papa namun Papa menolaknya. Papa sibuk membersihkan seragam kerja kebanggaannya yang terkena ludahannya sendiri. Saking sibuknya, Papa tak pernah sempat mengganti seragamnya. Bahkan saat kami sekeluarga tengah makan malam bersama setelah sekian bulan menanti moment ini kembali ke rumah kami. Sedangkan aku hanya diam saja, akhir-akhir ini aku memang sudah mulai terbiasa dengan keadaan semrawut seperti ini. Padahal, Mama sudah berusaha memasak makanan yang enak hari ini. Tapi, nampaknya Papa tidak pernah sekali pun menghargainya. Aku juga sedikit merasa aneh, apa sih yang ada di pikiran Papa? Aku rasa lidahku tak pernah bohong, makanan ini enak. Bahkan makanan terlezat yang pernah di masak Mama selama ini. Dalam hal ini, bukannya aku membela Mama daripada Papa. Bukan juga karena aku perempuan dan Mama juga perempuan. Tetapi, kenyataan yang aku lihat seperti ini. Papa terlalu melebih-lebihkan apa yang tidak lebih dan Mama selalu saja bersikap lemah. Aku tau, mengapa Mama bersikap seperti itu. Mama-ku yang baik itu tidak ingin anak perempuan tunggalnya ini melihat pertengkaran nyata yang terjadi diantara kedua ornag tuanya. Namun, sayang sekali aku telah melihatnya.
“Mama sendiri kan yang bilang? Kalo Papa makan malam di rumah hari ini Mama bakal masak enak. Sekarang mana buktinya?” Papa berteriak sekali lagi pada Mama. Aku tetap melanjutkan kegiatanku sendiri tanpa menghiraukan mereka. Aku lahap ayam goreng lengkuas itu sesuka hatiku.
“Maafin Mama ya Pa…Mama kira Papa suka. Ini kan makanan kesukaan Papa,” Mama berusaha menyunggingkan senyum manisnya.
“Alah…!!! Makanan enak kan belum tentu makanan kesukaan! Mama bisa aja masak yang lain. Makanan yang Papa belum pernah rasain, biar Papa jadi suka. Tapi, Mama masak kayak gini terus. Papa kan bosen!”
“Maafin Mama ya Pa…besok Mama masakin makanan yang Papa belum pernah makan. Besok makan malam di rumah lagi kan?” Mama tetap bertahan dengan senyum manisnya. Subhanallah…bidadari macam apa Mama itu. Mama tidak pernah kelihatan jelek bahkan saat hatinya sedang terkoyak-koyak.
“Apa? Makan malam di rumah lagi? Mama gila apa? Bisa sakit Papa. Hari ini aja gara-gara ngerasain masakan Mama, Papa udah nggak doyan makan. Gimana lagi besok!” Papa berdiri sambil melemparkan lap makan ke meja. Papa meninggalkan ruang makan tanpa permisi. Aku diam. Mama juga diam. Aku tak kuasa memeluknya. Bahkan untuk menatap penderitaannya saja aku tak sanggup. Aku melirik Mama. Mama diam menunduk tanpa pose di tempat duduknya. Aku tau Mama ingin menangis. Namun gengsi-nya terlalu besar untuk menangis di depan anak semata wayangnya ini. Aku pun ingin menangis memeluknya. Tapi, aku tak sanggup. Mama adalah wanita tegar. Beliau tak pantas menerima beban tangisanku ini.
Mama tersenyum sekilas, ia menyuntikan semangat pada dirinya sendiri, “Ayo sayang…dihabisin makanannya. Maafin Papa-mu ya. Mungkin Papa lagi banyak kerjaan,” Mama melanjutkan aktivitasnya.
“Makanan Jo udah habis Ma…Jo ke kamar ya?” Akhirnya pita suaraku kembali normal. Aku tersenyum pada Mama. Senyuman seperti biasanya.
“Oh…udah habis tho? Ya udah, tolong panggilin mbak Jah ya. Biar diberesin sama mbak Jah,” Dan Mama pun berbicara seperti biasanya setelah kami berdua selesai makan malam.
Aku mampir sebentar ke kamar mbak Jah. Aku menyampaikan apa yang dikatakan Mama padaku tadi pada mbak Jah. Mbak Jah pun tau apa yang terjadi di ruang makan tadi. Ia menangis tersedak-sedak di kamar, “Non…yang sabar ya,”
Anehnya aku hanya tersenyum. Aku tak bisa menangis seperti mbak Jah. Tetapi, hatiku disini sakit. Aku malu. Mengapa justru di saat hatiku merasa sakit, air mataku tak pernah mau keluar?
¨¨¨
Aku masih saja menjalani hari-hari biasa. Tidak ada yang spesial. Masih saja seperti hari kemarin, tidak ada yang baru atau lain di hari ini. Perasaanku masih sama saja. Tidak terlalu bahagia tapi juga tidak terlalu sedih. Jam setengah tujuh aku berangkat ke sekolah di antar Pak Teguh, sopir keluargaku. Dan pasti nanti aku sudah di jemput Pak Teguh kembali sekitar jam dua. Saatnya aku pulang ke rumah dan tidur siang.
“Macet ya Pak?”
“Cuma sebentar kok non, ada perbaikan jalan, nggak sampai telat kok non,” Pak Teguh, sopir keluargaku sedikit menatap kecemasanku yang tengah duduk di belakang. Di rumah aku hanya mempunyai sepasang orang tua, satu orang pacar dan dua orang sahabat. Pak Teguh dan mbak Jah itu kedua sahabatku. Mereka adalah sahabat terbaik sedunia. Namun hanya di duniaku saja. Ya, pak Teguh dan mbak Jah adalah dua orang yang paling mengerti perasaanku. Bahkan, mereka lebih mengerti aku daripada aku sendiri. Hebatnya mereka.
“Nah…udah hampir nyampe non,” Pak Teguh tersenyum padaku. Aku membalasnya. Setelah mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang, aku hendak turun, “non…semangat ya non!” Pak Teguh setiap pagi selalu menyemangatiku. Sahabatku itu juga tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah.
“Iya Pak, makasih ya Pak!” Aku tersenyum.
Aku sudah berada di kelas. Banyak teman sekelasku yang sudah sampai. Tapi mereka selalu sibuk melakukan aktivitas awal mereka yaitu mencontek. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk membagi sedikit bebanku di rumah pada mereka. Aku sangat kesepian. Sudah berkali-kali pula aku menghubungi Ara, pacarku. Namun tidak pernah ada jawaban. Kemana sih kamu Ar?
Jam pelajaran pun sudah di mulai. Hariku masih seperti biasa, tidak ada yang menarik. Hingga sampailah pada jam istirahat. Aku pergi kantin. Hari ini aku tak punya nafsu makan. Aku pergi ke kantin hanya untuk mencuci pikiran. Terlalu lama di kelas bukan atmosfir yang baik untukku. Ara masih saja tidak mengangkat teleponku. Sudah kucari ia di kelasnya namun ia tidak ada. Ara menghilang. Ara menghilang saat aku kesepian dan hampir mati rasa.
Akhirnya sampailah pada saatnya aku pulang. Aku meluncur menuju gerbang belakang. Aku melintasi ruang guru dan ruang kelas XII. Anehnya, aku masih tidak bisa melihat batang hidung Ara. Aku sampai di area parkir sekolahku. Aku mencoba mencari motor kuning kesayangan Ara. Aku rasa aku telah menemukannya, tapi itu…? Siapa perempuan itu? Siapa perempuan yang bersandar manja di motor pacar kepunyaanku?
Aku berjalan cepat menuju motor kuning kesayangan Ara, pacarku yang sekarang entah harus kuakui atau tidak. Aku hampir dekat dan Ara melihatku.
“Sayang…? Tunggu dulu aku bisa jelasin semua,” Ara mencoba menutupi kesalahannya.
Aku menampar Ara. Aku berbalik dan meninggalkan mantan pacar jahanamku itu. Ara berlari mengejarku.
“Sayang…aku bisa jelasin semuanya, cewek itu kegatelan tadi minta tolong ke aku, maafin aku say…” Ara memegang lenganku. Ia memaksaku aku untuk melihat mata setannya itu.
“Mulai sekarang, jangan panggil gue sayang! Nama gue Jo!” aku melepaskan genggamannya. Aku kembali meninggalkannya. Ara tidak mengejarku. Tapi aku rasa Ara mengumpat dan aku tidak perduli dengan hal itu, “Ehmm…Lagian…bukannya elo ya yang suka kegatelan kalo liat cewek seksi?” Aku berbalik sebentar dan menambahkan sedikit rasa kekecewaanku. Ara hanya menghentakkan kakinya. Dasar cowok jahanam! Kalaupun dulu aku pernah mengatakan bahwa aku tidak bisa hidup tanpa dia, kata-kata itu aku tarik kembali.
Aku sampai di gerbang. Aku mencari Pak Teguh yang dari tadi batang hidungnya belum aku temukan. Uhhhh…air mataku sudah hampir jatuh. aku memang tidak bisa hidup tanpa Ara. Cuma Ara orang tuaku dan sahabatku di sekolah. Ara selalu memanjakan aku, tapi tak pernah sekali pun menjadikan aku perempuan lemah. Ara…kok kamu tega sih sama aku? Pokoknya, air mataku tidak boleh jatuh di sini. Aku tak mau dikasihani teman-teman sekolahku. Tidak.
Aku berjalan menuju gang kecil entah kemana. Aku ingin menjatuhkan air mataku. Tapi ternyata hatiku membeku. Air mataku sudah hilang. Aku pikir patah hatiku telah usai. Tapi ternyata perkiraanku salah. Nafasku tersendat, rasanya udara enggan menyapa paru-paruku. Hatiku sakit, bahkan lebih parah. Aku hampir mati. Aku ingin mati. Aku sampai di jalan yang cukup besar tapi aku rasa ini bukan jalan raya. Aku tetap ingin mati saja. Apa gunanya aku masih hidup? Toh akhirnya Mama dan Papa akan berpisah. Kini di sekolah juga tidak ada lagi Ara tersayang. Duniaku hancur. Mereka kejam. Mereka meninggalkan aku.
“Tinnn…Tinnn…”
Aku sadar sepenuhnya ada sebuah mobil di belakangku. Tapi tak sekali pun aku ingin menggeserkan tubuhku ke tepian jalan. Biar saja ada mobil. Mobil itu akan membantuku mencapai tujuan terakhirku. Mati. Aku mati.
Sekilat cahaya datang. Kilat cahaya itu menarik tanganku masuk ke dalam raganya. Cahaya itu memelukku. Aku memejamkan mataku. Aku rasa aku telah mati. Tapi, dimana aku? Aku akan masuk surga atau neraka?
“Heh! Heh! Bangun,” Ada sebuah tangan yang sangat keras menepuk-nepuk pipiku. Aku membuka mataku. Ada seorang laki-laki di sampingku. Aku terlonjak menjauhinya.
“Akhirnya lo sadar juga! Gue kira lo udah mati,” Laki-laki itu sedikit tersenyum padaku. Tampang laki-laki itu menyeramkan. Rambutnya bergaya rambut anak punk. Ada tato di sekujur tubuhnya. Laki-laki itu juga punya beberapa tindik di wajahnya. Ia berkulit hitam dan pakaiannya juga serba hitam. Saat ini aku berada dimana? Kotor dan banyak kardus bekas. Ini seperti gubuk. Jauh sekali dari kata mewah dan indah. Aku dimana? Jangan-jangan aku sudah berada di neraka. Apa aku sudah berada di neraka?
“Gue di neraka ya?” Aku mengerutkan kedua alisku. Aku ingin tau dimana diriku berada saat ini.
“Enak aja lo! Lo pikir gue iblis apa? Lo tu sekarang di rumah gue, masih di Indonesia kok!” Laki-laki punk itu menyodorkan segelas air putih padaku. Aku menerimanya bahkan aku langsung menghabiskannya. Aku masih hidup.
“Jadi…gue nggak jadi mati? Elo yang nyelametin gue?”
“Yaiyalah…, lo masih hidup. Lain kali kalo jalan hati-hati ya,” Laki-laki tersenyum padaku. Manis. Tapi masih manis lagi senyum Ara. Cowok jahanam itu sudah menghancurkan hidupku. Aku jadi kesal. Kenapa aku tidak mati saja? Air mataku jatuh. Hatiku sakit. Kenapa laki-laki ini menyelamatkan aku?
“Eh..Eh.. mbak, jangan nangis dong! Masa cantik-cantik nangis?” Laki-laki itu menjadi salah tingkah. Mungkin dia merasa bersalah.
“Kenapa lo nyelametin gue? Seharusnya tu gue udah mati sekarang…, lo jahat!” Aku menambah volume tangisanku. Aku sudah tak sanggup menanggung semuanya ini sendirian. Cuma di sini aku bisa menangis. Dan kebetulan saja ada seorang laki-laki yang tidak aku kenal.
“O…jadi tadi lo sengaja? Gila ya lo! Emang lo mau masuk neraka? Dasar cewek gila!” Laki-laki bergaya punk itu mengambil kembali segelas air putih yang kubawa.
“Apa? Gue gila? Bukannya lo yang gila? Lo kan nggak kenal gue, kenapa lo nyelametin gue?” Aku menahan air mataku sesaat. Laki-laki ini sangat menyebalkan.
“Aaahhh…keluar lo dari rumah gue, minggir!” Laki-laki itu menarik tanganku. Aku menghapus air mataku yang tak mau berhenti, “bukannya bilang makasih malah ngatain gue gila? Dasar cewek gila!”
Aku keluar dari rumah gubuk itu. Ternyata aku berada di daerah kumuh. Ada banyak sampah di sini. Banyak kardus bekas, plastik dan sangat jorok. Aku harus kemana? Aduh…dimana tasku? Jangan-jangan laki-laki itu…
“Heh! Cewek gila!”
Aku berbalik. Apa? Aku-kah sang “Cewek Gila” ?
“Nih! Tas lo!” Laki-laki bergaya punk itu melemparkan sebuah tas padaku. Ternyata itu memang benar tasku, “dicek dulu…ntar dikira gue nyolong lagi!”
Aku segera mengecek seluruh isi tasku. Buku, dompet, hp. Semuanya masih komplit. Aku senang laki-laki itu adalah orang yang jujur. Saat aku ingin mengucapkan terima kasih laki-laki bergaya punk itu sudah menghilang. Kemana perginya laki-laki itu? Ah…masa bodoh!
Aku bergegas menelepon pak Teguh untuk minta dijemput. Dan tak lama kemudian Pak Teguh datang menjemputku. Aku bersyukur karena laki-laki bergaya punk tadi menyelamatkanku, karena aku masih bisa bertemu Pak Teguh dan Mbak Jah yang selalu sayang padaku.
“Mama khawatir banget ya, Pak?”
“Ehm…maaf non, dari tadi nyonya belum pulang. Jadi, Pak Teguh belum kasih kabar ke nyonya,”
“Nggak papa kok, Pak!”
¨¨¨
Sepulang sekolah.
“Pak teguh, hari ini Jo nggak pulang. Jo mau ketemu sama temen. Ntar Jo telpon lagi ya, Pak,”
“Oh…iya non,”
Aku berjalan menuju area kumuh kemarin. Aku ingin menyampaikan ucapan terima kasihku pada laki-laki bergaya punk itu. Bagaimanapun juga ia telah menyelamatkan nyawaku walau hal itu tak kuinginkan. Tapi jujur, entah mengapa kemarin rasanya perasaanku lega sekali. Aku berhasil melupakan masalah Mama dan Papa di rumah serta menghilangkan keterpurukanku ditinggal Ara. Aku harus berterima kasih pada laki-laki bergaya punk itu.
Aku sudah memasuki area kumuh itu. Aku mencari rumah gubuk laki-laki itu. Tapi, aku lupa. Rumah gubuk di daerah ini rata-rata semuanya hampir sama. Hal ini membuatku semakin bertambah bingung. Apa aku harus bertanya? Tapi, namanya saja aku belum tau. Aduh…gimana nih?
“Loh? Ada apa tuh?” Aku melihat ada sebuah pengroyokan dan aku rasa korbannya laki-laki. Ramai sekali. Dan tidak hanya aku saja yang melihat tapi ada beberapa orang yang melihat. Namun, mereka hanya sekedar melihat. Tidak mau membantu laki-laki itu. Aku mendekat ke arah tempat pengroyokan itu.
“Polisi! Polisi!” Aku berakting sedikit. Aku berakting ketakutan seperti akan datang sekelompok polisi di sini. Para tersangka itu lari tunggang langgang. Mereka salah tingkah. Ada yang langsung lari. Dan ada yang masih memikirkan sandal bututnya. Lucu rasanya. Dan tanpa sengaja aku sedikit tertawa. Hanya beberapa menit mereka sudah pergi. Ya ampun…ternyata korban dari pengroyokan itu adalah laki-laki bergaya punk kemarin. Aku berlari ke arahnya ingin membantu.
“Lo nggak papa?” Aku membantunya berdiri.
“Pake nanya lagi! Lo tau nggak bibir gue berdarah-darah?” Laki-laki bergaya punk itu melepaskan tanganku.
“Sorry…Sorry…sini gue bantuin!” Aku membantunya lagi. Walaupun aku tau sebenarnya ia tidak mau. Aku memapahnya menuju rumah gubuknya. Eh…ternyata ada seorang anak kecil butut yang mengikuti kami, “Eh…adek, kakak minta tolong beliin kapas sama obat merah ya? Ini uangnya,” Tangan kiri-ku menyodorkan uang lima puluh ribu pada anak kecil butut itu. Ia hanya mengangguk.
“Gue nggak butuh obat merah! Ngapain lo beli obat merah?” Laki-laki bergaya punk yang kesakitan itu masih saja bersikap jutek padaku.
“Idih…siapa juga yang mau beliin lo obat merah? GR deh!” Aku sedikit menggodanya. Aku tau benar rasanya. Bibir berdarah-darah, pipi lebam-lebam dan aku rasa perutnya juga sakit. Apa sih yang sebenarnya terjadi?
Akhirnya kami berdua sampai di rumah gubuknya. Aku mengambilkan segelas air putih untuknya. Ia membaluri lukanya dengan air putih yang kuberikan tadi. Ia merintih kesakitan.
“Sakit ya?”
“Udah tau nanya?” Laki-laki bergaya punk itu masih saja jutek menanggapiku.
Anak kecil butut itu kembali. Ia menyerahkan kapas, obat merah dan beberapa ribu uang kembalian.
“Makasih ya,” Aku tersenyum pada anak kecil butut itu. Kasihan sekali dia. Kurus dan kering kerontang. Hidupnya tak terurus. Kotor dan nampaknya tak sehat bagiku. Aku mengobati laki-laki bergaya punk itu dengan obat merah. Setelah selesai, laki-laki bergaya punk itu beristirahat sejenak.
“Makasih ya Bang,” Akhirnya anak kecil butut yang dari tadi diam saja itu angkat bicara. Ia mengusap-usap lengan laki-laki bergaya punk itu.
“Nggak papa! Lain kali lo harus jadi anak yang berani. Lo harus perjuangin apa yang jadi hak lo. Ok?” Laki-laki bergaya punk itu tersenyum manis dan mengajak anak kecil butut itu untuk tos bersamanya. Entah mengapa aku tersenyum bangga melihatnya. Harus menjadi anak yang berani untuk perjuangin apa yang jadi haknya. Kata-kata hebat yang kudengar dari laki-laki bergaya punk itu menyentuh hatiku. Bodohnya aku yang ingin bunuh diri kemarin. Aku punya segalanya dan mungkin anak kecil itu tidak. Eh, tapi aku malah ingin membuangnya. Dasar Jo bodoh!
“Ehhhemmm….ngelamun nih!” Laki-laki bergaya punk itu berdehem mengagetkanku. Aku sedikit terlena.
“Ih…sorry ya, ngelamun apaan? Orang gue nggak ngelamun kok!” Aku mengelak karena aku sedikit malu dengannya. Aku terlihat bodoh di depannya.
“Nggak usah malu sama gue,” Aduh…nada itu. Seperti nada suara Ara jika sedang memanjakan aku. Aku sedikit rindu dengan Ara.
“Gue nggak malu kok! Gue apa adanya,” Hek. Apa adanya? Aduh…aku kok jadi gombal gini. Dasar laki-laki gila!
“Gue Aboy…panggil aja Boy,” Laki-laki bergaya punk itu mengulurkan tangannya padaku. Ia tersenyum. Manis.
“Gue…”
“Jovana,” Laki-laki itu menyela perkataanku. Aku mengerutkan dahi.
“Kok?” Aku sedikit bingung.
“Lo lupa masih pake baju seragam?”
Ya ampun…bodohnya kamu, Jo. Aku tersenyum. Boy pun tersenyum padaku. Lama-lama kami berdua tertawa bersama. Rasanya sungguh damai. Jika aku boleh meminta lebih, aku ingin moment ini tetap terus ada dalam hidupku. Sudah lama aku tak tertawa lepas seperti ini. Dan kini rasanya sungguh nyaman. Aboy, terima kasih.
¨¨¨
Seterusnya aku selalu berjumpa dengan Boy sepulang sekolah. Kurang lebih sudah seminggu kami berteman. Aku bahagia. Aku merubah sedikit sifatku yang sebenarnya aku benci. Kini, aku menjadi anak perempuan yang bahagia. Hidupku penuh senyum semenjak aku berteman dengan Boy. Laki-laki bergaya punk itu adalah malaikat. Dan aku tidak ingin meninggalkannya. Sedikit mengerti aku tentang latar belakangnya. Ia sudah menjadi anak yatim piatu saat berumur 10 tahun. Lalu, ia tinggal di sebuah panti asuhan. Boy memang hanya mengenyam bangku sekolah sampai tamat SMP. Setelah itu ia memutuskan untuk mandiri. Seharusnya, ia sudah kuliah sekarang. Tapi, “untuk makan saja susah, gimana mau sekolah?” katanya. Hidup Boy penuh perjuangan. Ia dan beberapa temannya membangun sebuah sekolah membaca di area kumuh ini. Boy mengajar di sekolahnya dari pagi hingga siang dan selebihnya ia mencari uang. Dari mengamen, memulung dan menjual barang bekas yang di sulap menjadi barang mewah. Boy inspirasi terbesarku. Aku tak malu lagi untuk memperlihatkan perasaanku di depan orang. Jika aku tak suka, aku bilang tak suka. Jika aku ingin menangis, aku akan menangis. Aboy adalah malaikatku.
“Ya sudah, besok kita lanjutin lagi ya? Jangan lupa belajar ya di rumah,” Aboy menutup kelasnya hari ini. Aku menunggu di luar. Aku tersenyum padanya yang sedang berjalan ke arahku.
“Capek?”
“Enggak…” Jawabku. Aku memang sangat senang melihat Boy mengajar anak-anak butut itu dengan gaya punk-nya. Terlihat unik dan eksotis. Boy mengelus rambutku. Aku tersenyum lagi.
“Boy…kenapa sih lo…ehm, maksud gue kenapa harus punk?” Aku menatapnya tajam. Aku sangat penasaran dengan jawabannya mengenai hal yang satu ini.
“Lo aneh-aneh aja! Ehm…apa ya? Menurut gue punk itu solid. Persaudaraan di dalamnya itu kentel banget. Itu yang bikin gue suka banget sama anak-anaknya. Lagian kehidupan setiap orangnya tu penuh dengan seni. Mereka bebas berekspresi. Ini yang gue butuhin, bebas berekspresi,” Aku terpesona mendengar penjelasan Boy yang sangat detail. Aku pikir Boy hanya akan mengatakan bahwa “punk itu seni”. Tapi, dugaanku salah besar. Pemikiran Boy sangat luas dan penuh inspirasi.
“Bang…Acil Bang!” Tiba-tiba seorang laki-laki berlari ke arah aku dan Boy. Aneh saja aku tidak suka dengan kehadiran laki-laki itu. Aku pikir laki-laki itu akan merebut Boy dariku.
“Kenapa Acil?” Seketika Boy berdiri.
“Dikejar polisi Bang, mereka pikir Acil gelandangan!” Laki-laki itu berhenti tepat di depan aku dan Boy berada. Boy hendak membantu Acil, anak butut yang waktu itu sudah ia selamatkan. Tapi, hatiku berkata tidak.
“Boy…,” Aku memegang lengan Boy.
“Please Jo…, gue udah anggap Acil adek gue sendiri,” Boy memegang kedua pipiku. Rasanya dingin. Boy akan meninggalkanku. Boy tetap berlari membantu Acil. Aku terpaku. Boy pun akan meninggalkanku. Tapi, tidak boleh. Boy hampir tidak terlihat olehku. Aku berlari mengejarnya. Namun, saat sampai di pertigaan jalan Boy sudah tidak terlihat. Aku menambah laju kedua kakiku. Aku sampai di pertigaan jalan. Aku tak tau Boy ada dimana. Ia menghilang.
“Door! Door!” Aku mendengar suara tembakan. Hatiku berdegub kencang. Mungkinkah itu Boy? Oh, semoga saja tidak. Aku mendekati suara tembakan itu.
Aku menemukan Boy. Akhirnya aku menemukan Boy. Tapi Boy yang berbeda. Boy yang terbujur kaku di tengah jalan. Aku berjalan sempoyongan mendekati tubuh kaku itu. Aku memegangnya. Aku memegang dahinya. Boy tertembak. Boy, malaikatku akhirnya berhasil menyelamatkan adiknya. Tapi, ia meninggalkanku. Boy mati. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan tubuh kakunya. Ia tidak mendengarku. Boy tidak mendengarkan tangisanku. Boy telah meninggalkanku.
¨¨¨
Hariku kembali seperti biasa. Tapi aku terlanjur menjadi anak perempuan yang berbeda. Anak perempuan yang lebih bahagia. Bahagia demi Boy. Aku meneruskan perjuangan Boy di sekolah membaca. Aku tersadar akan sesuatu hal bahwa Boy akan selalu hidup di hatiku. Walaupun pertemuan kami sangat singkat. Walaupun hanya sebentar aku mengenalnya. Tapi, yang terpenting aku bahagia. Bahagia demi Boy. Terima kasih Boy. Aku menjadi anak perempuan yang bahagia dan tegar sekarang.






TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar

 

Catatan harian Peri Ai Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting