Selasa, 27 Desember 2011

Setidaknya, ia mencari uang halal.

Diposting oleh PeriAi di 04.20
 
Karena tugas kuliah yang sudah mulai menumpuk lagi, bebanku terasa makin berat saja. Memang bukan kata yang tepat sih, tapi aku tak tau lagi kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku. Rencananya hari ini akan ada UKD Pengantar Teknologi Informasi. Tapi ditunda. Perasaanku membuncah senang. Terang saja, karena malamnya aku tidak belajar. Entah insting atau apa, malam itu aku sama sekali tidak bernafsu untuk membuka materi tentang pascal.
Perjalananku kembali ke dalam kelas Biologi Umum. Seharusnya ini kelas Fisika Dasar. Namun, karena sang Dosen sedang berada di luar kota (Jangan lupa oleh-oleh peyemnya ya, Pak Risa). Jadi, karena ada satu dan lain hal, mata kuliah pagi ini diganti dengan Biologi Umum.
Sedikit kesal memang, sangat disayangkan. Tak tau mengapa atmosfir di kelas tidak mendukung untuk belajar mata kuliah Biologi Umum. Banyak teman-teman yang membuka Laptop. Sejauh yang kutau mereka belajar Praktikum Kalkulus. Tapi ada juga yang membuka facebook. Bahkan, ada kakak tingkat yang menonton bola. Ada juga teman-teman dan kakak tingkat yang mengobrol. Entah apa yang diobrolkan. Sementara aku sama sekali tak paham dengan apa yang diterangkan oleh sang Dosen. Atmosfir nya sungguh tidak mendukung untuk memenuhi isi catatanku.
Kuliah Biologi Umum selesai pada pukul 11.00 siang. Aku langsung melangkahkan kaki menuju gerbang belakang. Tentunya dengan berjalan kaki dan hawanya sangat tidak bersahabat. Sekitar 10 menit kemudian aku sampai di halte depan kampus. Pemandangan yang tidak seperti biasanya, sepi. Aku duduk di sana hampir 15 menit. Menanti bis yang akan mengantarku sampai ke rumah. Setelah 15 menit berlalu, mulai banyak berdatangan manusia yang sama sepertiku, menanti bis.
Aku terkesima ketika melihat seorang anak kecil yang kutemui tempo lalu di halte bis depan kampus. Seingatku, dia pengamen. Anak kecil itu mengamen dari bis ke bis. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Tertarik sekali aku dengannya. Anak kecil itu sangat kurus. Ukuran tangannya saja kalah dengan adikku yang baru berumur 4 tahun. Dan kurasa anak itu kurang lebih berumur anak SD kelas 5. Anak kecil itu memakai baju yang kebesaran. Dia duduk di dekatku waktu di halte. Jari tangan dan jari kakinya tidak begitu bersih. Ia berkali-kali menggaruk jari-jari tangannya ketika menunggu bis. Yang ada di pikiranku saat itu, “Kemana orang tua-nya?”

Apakah justru kedua orang tuanya yang menyuruhnya mengamen? Atau ia yatim piatu lalu mengamen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Apakah ia akan mendapat nasib sepertiku? Apakah ia pernah bersekolah? Apakah ia nantinya dapat mempunyai kesempatan sepertiku?
Aku mulai menyadari banyak hal dengan melihat anak kecil itu saja. Hidupku sudah sangat baik dibandingan dengan dia. Aku bisa bersekolah dan akhirnya mempunyai kesempatan unutk kuliah. Aku bisa merasakan lezatnya makanan yang dimasak Ibu di rumah. Aku bisa membeli barang yang kusuka dengan uang yang diberikan oleh Bapak. Lalu, bagaimana dengan anak itu?
Bis jurusan Tawangmangu-Solo akhirnya datang. Aku naik. Dan anak kecil itu juga naik.
Anak kecil itu mulai bernyanyi. Ia menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh ST12. Aku tak tau benar apa judulnya. Salah satu liriknya berbunyi, “Allahhuakbar Maha Besar…kumemujamu begitu indah,” seperti itu kurang lebih. Suaranya seperti kebanyakan pengamen lainnya. Besar dan serak. Mungkin karena ia sudah sering bernyanyi, bukan sering mungkin tapi setiap hari. 


Aku mendengar percakapannya dengan seorang Bapak yang sengaja bertanya padanya. Di Solo, anak kecil itu hanya tinggal dengan kakaknya. Kedua orang tuanya berada di Jakarta. Anak kecil itu tinggal di pinggir sungai Bengawan Solo bersama dengan kakaknya. Kakaknya bekerja sebagai penambang pasir. Kekhawatiran terbesarnya adalah ketika sungai Bengawan Solo itu banjir. Bagaimana nasibnya dengan kakaknya?

Cara yang tepat untuk membantunya hanya menghargai usaha yang telah dilakukannya untuk mencari rezeki. Setidaknya, ia mencari uang halal. Tidak mencopet atau mencuri. Anak kecil itu mengamen dari bis ke bis. Bernyanyi adalah hal yang terbaik yang ia lakukan untuk mencari rezeki. Kita hanya bisa menghargai usaha yang telah dilakukannya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Catatan harian Peri Ai Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting