“Cuih…!!!”
Tiba-tiba saja Papa meludahkan makanannya saat kami sekeluarga sedang
makan malam bersama di rumah, “Makanan apa sih ini Ma?” Papa berteriak protes
pada Mama. Mama mencoba tersenyum dan menyodorkan segelas air putih pada Papa
namun Papa menolaknya. Papa sibuk membersihkan seragam kerja kebanggaannya yang
terkena ludahannya sendiri. Saking sibuknya, Papa tak pernah sempat mengganti
seragamnya. Bahkan saat kami sekeluarga tengah makan malam bersama setelah
sekian bulan menanti moment ini kembali ke rumah kami. Sedangkan aku hanya diam
saja, akhir-akhir ini aku memang sudah mulai terbiasa dengan keadaan semrawut
seperti ini. Padahal, Mama sudah berusaha memasak makanan yang enak hari ini.
Tapi, nampaknya Papa tidak pernah sekali pun menghargainya. Aku juga sedikit
merasa aneh, apa sih yang ada di pikiran Papa? Aku rasa lidahku tak pernah
bohong, makanan ini enak. Bahkan makanan terlezat yang pernah di masak Mama
selama ini. Dalam hal ini, bukannya aku membela Mama daripada Papa. Bukan juga
karena aku perempuan dan Mama juga perempuan. Tetapi, kenyataan yang aku lihat
seperti ini. Papa terlalu melebih-lebihkan apa yang tidak lebih dan Mama selalu
saja bersikap lemah. Aku tau, mengapa Mama bersikap seperti itu. Mama-ku yang
baik itu tidak ingin anak perempuan tunggalnya ini melihat pertengkaran nyata
yang terjadi diantara kedua ornag tuanya. Namun, sayang sekali aku telah
melihatnya.
“Mama sendiri kan yang bilang? Kalo Papa makan malam di rumah hari ini
Mama bakal masak enak. Sekarang mana buktinya?” Papa berteriak sekali lagi pada
Mama. Aku tetap melanjutkan kegiatanku sendiri tanpa menghiraukan mereka. Aku
lahap ayam goreng lengkuas itu sesuka hatiku.
“Maafin Mama ya Pa…Mama kira Papa suka. Ini kan makanan kesukaan Papa,”
Mama berusaha menyunggingkan senyum manisnya.
“Alah…!!! Makanan enak kan belum tentu makanan kesukaan! Mama bisa aja
masak yang lain. Makanan yang Papa belum pernah rasain, biar Papa jadi suka.
Tapi, Mama masak kayak gini terus. Papa kan bosen!”
“Maafin Mama ya Pa…besok Mama masakin makanan yang Papa belum pernah
makan. Besok makan malam di rumah lagi kan?” Mama tetap bertahan dengan senyum
manisnya. Subhanallah…bidadari macam apa Mama itu. Mama tidak pernah kelihatan
jelek bahkan saat hatinya sedang terkoyak-koyak.
“Apa? Makan malam di rumah lagi? Mama gila apa? Bisa sakit Papa. Hari ini
aja gara-gara ngerasain masakan Mama, Papa udah nggak doyan makan. Gimana lagi
besok!” Papa berdiri sambil melemparkan lap makan ke meja. Papa meninggalkan
ruang makan tanpa permisi. Aku diam. Mama juga diam. Aku tak kuasa memeluknya.
Bahkan untuk menatap penderitaannya saja aku tak sanggup. Aku melirik Mama.
Mama diam menunduk tanpa pose di tempat duduknya. Aku tau Mama ingin menangis.
Namun gengsi-nya terlalu besar untuk menangis di depan anak semata wayangnya
ini. Aku pun ingin menangis memeluknya. Tapi, aku tak sanggup. Mama adalah
wanita tegar. Beliau tak pantas menerima beban tangisanku ini.
Mama tersenyum sekilas, ia menyuntikan semangat pada dirinya sendiri,
“Ayo sayang…dihabisin makanannya. Maafin Papa-mu ya. Mungkin Papa lagi banyak
kerjaan,” Mama melanjutkan aktivitasnya.
“Makanan Jo udah habis Ma…Jo ke kamar ya?” Akhirnya pita suaraku kembali
normal. Aku tersenyum pada Mama. Senyuman seperti biasanya.
“Oh…udah habis tho? Ya udah, tolong panggilin mbak Jah ya. Biar diberesin
sama mbak Jah,” Dan Mama pun berbicara seperti biasanya setelah kami berdua
selesai makan malam.
Aku mampir sebentar ke kamar mbak Jah. Aku menyampaikan apa yang
dikatakan Mama padaku tadi pada mbak Jah. Mbak Jah pun tau apa yang terjadi di
ruang makan tadi. Ia menangis tersedak-sedak di kamar, “Non…yang sabar ya,”
Anehnya aku hanya tersenyum. Aku tak bisa menangis seperti mbak Jah.
Tetapi, hatiku disini sakit. Aku malu. Mengapa justru di saat hatiku merasa
sakit, air mataku tak pernah mau keluar?
¨¨¨
Aku masih saja menjalani hari-hari biasa. Tidak ada
yang spesial. Masih saja seperti hari kemarin, tidak ada yang baru atau lain di
hari ini. Perasaanku masih sama saja. Tidak terlalu bahagia tapi juga tidak
terlalu sedih. Jam setengah tujuh aku berangkat ke sekolah di antar Pak Teguh,
sopir keluargaku. Dan pasti nanti aku sudah di jemput Pak Teguh kembali sekitar
jam dua. Saatnya aku pulang ke rumah dan tidur siang.
“Macet ya Pak?”
“Cuma sebentar kok non, ada perbaikan jalan, nggak sampai telat kok non,”
Pak Teguh, sopir keluargaku sedikit menatap kecemasanku yang tengah duduk di
belakang. Di rumah aku hanya mempunyai sepasang orang tua, satu orang pacar dan
dua orang sahabat. Pak Teguh dan mbak Jah itu kedua sahabatku. Mereka adalah
sahabat terbaik sedunia. Namun hanya di duniaku saja. Ya, pak Teguh dan mbak
Jah adalah dua orang yang paling mengerti perasaanku. Bahkan, mereka lebih
mengerti aku daripada aku sendiri. Hebatnya mereka.
“Nah…udah hampir nyampe non,” Pak Teguh tersenyum padaku. Aku
membalasnya. Setelah mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang, aku hendak
turun, “non…semangat ya non!” Pak Teguh setiap pagi selalu menyemangatiku.
Sahabatku itu juga tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah.
“Iya Pak, makasih ya Pak!” Aku tersenyum.
Aku sudah berada di kelas. Banyak teman sekelasku yang sudah sampai. Tapi
mereka selalu sibuk melakukan aktivitas awal mereka yaitu mencontek. Aku tidak
pernah punya kesempatan untuk membagi sedikit bebanku di rumah pada mereka. Aku
sangat kesepian. Sudah berkali-kali pula aku menghubungi Ara, pacarku. Namun
tidak pernah ada jawaban. Kemana sih kamu Ar?
Jam pelajaran pun sudah di mulai. Hariku masih seperti biasa, tidak ada
yang menarik. Hingga sampailah pada jam istirahat. Aku pergi kantin. Hari ini
aku tak punya nafsu makan. Aku pergi ke kantin hanya untuk mencuci pikiran.
Terlalu lama di kelas bukan atmosfir yang baik untukku. Ara masih saja tidak
mengangkat teleponku. Sudah kucari ia di kelasnya namun ia tidak ada. Ara
menghilang. Ara menghilang saat aku kesepian dan hampir mati rasa.
Akhirnya sampailah pada saatnya aku pulang. Aku meluncur menuju gerbang
belakang. Aku melintasi ruang guru dan ruang kelas XII. Anehnya, aku masih
tidak bisa melihat batang hidung Ara. Aku sampai di area parkir sekolahku. Aku
mencoba mencari motor kuning kesayangan Ara. Aku rasa aku telah menemukannya,
tapi itu…? Siapa perempuan itu? Siapa perempuan yang bersandar manja di motor
pacar kepunyaanku?
Aku berjalan cepat menuju motor kuning kesayangan Ara, pacarku yang
sekarang entah harus kuakui atau tidak. Aku hampir dekat dan Ara melihatku.
“Sayang…? Tunggu dulu aku bisa jelasin semua,” Ara mencoba menutupi
kesalahannya.
Aku menampar Ara. Aku berbalik dan meninggalkan
mantan pacar jahanamku itu. Ara berlari mengejarku.
“Sayang…aku bisa jelasin semuanya, cewek itu kegatelan tadi minta tolong
ke aku, maafin aku say…” Ara memegang lenganku. Ia memaksaku aku untuk melihat
mata setannya itu.
“Mulai sekarang, jangan panggil gue sayang! Nama gue Jo!” aku melepaskan
genggamannya. Aku kembali meninggalkannya. Ara tidak mengejarku. Tapi aku rasa
Ara mengumpat dan aku tidak perduli dengan hal itu, “Ehmm…Lagian…bukannya elo
ya yang suka kegatelan kalo liat cewek seksi?” Aku berbalik sebentar dan
menambahkan sedikit rasa kekecewaanku. Ara hanya menghentakkan kakinya. Dasar
cowok jahanam! Kalaupun dulu aku pernah mengatakan bahwa aku tidak bisa hidup
tanpa dia, kata-kata itu aku tarik kembali.
Aku sampai di gerbang. Aku mencari Pak Teguh yang dari tadi batang
hidungnya belum aku temukan. Uhhhh…air mataku sudah hampir jatuh. aku memang
tidak bisa hidup tanpa Ara. Cuma Ara orang tuaku dan sahabatku di sekolah. Ara
selalu memanjakan aku, tapi tak pernah sekali pun menjadikan aku perempuan
lemah. Ara…kok kamu tega sih sama aku? Pokoknya, air mataku tidak boleh jatuh
di sini. Aku tak mau dikasihani teman-teman sekolahku. Tidak.
Aku berjalan menuju gang kecil entah kemana. Aku ingin menjatuhkan air
mataku. Tapi ternyata hatiku membeku. Air mataku sudah hilang. Aku pikir patah
hatiku telah usai. Tapi ternyata perkiraanku salah. Nafasku tersendat, rasanya
udara enggan menyapa paru-paruku. Hatiku sakit, bahkan lebih parah. Aku hampir
mati. Aku ingin mati. Aku sampai di jalan yang cukup besar tapi aku rasa ini
bukan jalan raya. Aku tetap ingin mati saja. Apa gunanya aku masih hidup? Toh
akhirnya Mama dan Papa akan berpisah. Kini di sekolah juga tidak ada lagi Ara
tersayang. Duniaku hancur. Mereka kejam. Mereka meninggalkan aku.
“Tinnn…Tinnn…”
Aku sadar sepenuhnya ada sebuah mobil di belakangku. Tapi tak sekali pun
aku ingin menggeserkan tubuhku ke tepian jalan. Biar saja ada mobil. Mobil itu
akan membantuku mencapai tujuan terakhirku. Mati. Aku mati.
Sekilat cahaya datang. Kilat cahaya itu menarik tanganku masuk ke dalam
raganya. Cahaya itu memelukku. Aku memejamkan mataku. Aku rasa aku telah mati.
Tapi, dimana aku? Aku akan masuk surga atau neraka?
“Heh! Heh! Bangun,” Ada sebuah tangan yang sangat keras menepuk-nepuk
pipiku. Aku membuka mataku. Ada seorang laki-laki di sampingku. Aku terlonjak
menjauhinya.
“Akhirnya lo sadar juga! Gue kira lo udah mati,” Laki-laki itu sedikit
tersenyum padaku. Tampang laki-laki itu menyeramkan. Rambutnya bergaya rambut
anak punk. Ada tato di sekujur tubuhnya. Laki-laki itu juga punya beberapa
tindik di wajahnya. Ia berkulit hitam dan pakaiannya juga serba hitam. Saat ini
aku berada dimana? Kotor dan banyak kardus bekas. Ini seperti gubuk. Jauh
sekali dari kata mewah dan indah. Aku dimana? Jangan-jangan aku sudah berada di
neraka. Apa aku sudah berada di neraka?
“Gue di neraka ya?” Aku mengerutkan kedua alisku. Aku ingin tau dimana
diriku berada saat ini.
“Enak aja lo! Lo pikir gue iblis apa? Lo tu sekarang di rumah gue, masih
di Indonesia kok!” Laki-laki punk itu menyodorkan segelas air putih padaku. Aku
menerimanya bahkan aku langsung menghabiskannya. Aku masih hidup.
“Jadi…gue nggak jadi mati? Elo yang nyelametin gue?”
“Yaiyalah…, lo masih hidup. Lain kali kalo jalan hati-hati ya,” Laki-laki
tersenyum padaku. Manis. Tapi masih manis lagi senyum Ara. Cowok jahanam itu
sudah menghancurkan hidupku. Aku jadi kesal. Kenapa aku tidak mati saja? Air
mataku jatuh. Hatiku sakit. Kenapa laki-laki ini menyelamatkan aku?
“Eh..Eh.. mbak, jangan nangis dong! Masa cantik-cantik nangis?” Laki-laki
itu menjadi salah tingkah. Mungkin dia merasa bersalah.
“Kenapa lo nyelametin gue? Seharusnya tu gue udah mati sekarang…, lo
jahat!” Aku menambah volume tangisanku. Aku sudah tak sanggup menanggung
semuanya ini sendirian. Cuma di sini aku bisa menangis. Dan kebetulan saja ada
seorang laki-laki yang tidak aku kenal.
“O…jadi tadi lo sengaja? Gila ya lo! Emang lo mau masuk neraka? Dasar
cewek gila!” Laki-laki bergaya punk itu mengambil kembali segelas air putih
yang kubawa.
“Apa? Gue gila? Bukannya lo yang gila? Lo kan nggak kenal gue, kenapa lo
nyelametin gue?” Aku menahan air mataku sesaat. Laki-laki ini sangat
menyebalkan.
“Aaahhh…keluar lo dari rumah gue, minggir!” Laki-laki itu menarik
tanganku. Aku menghapus air mataku yang tak mau berhenti, “bukannya bilang
makasih malah ngatain gue gila? Dasar cewek gila!”
Aku keluar dari rumah gubuk itu. Ternyata aku berada di daerah kumuh. Ada
banyak sampah di sini. Banyak kardus bekas, plastik dan sangat jorok. Aku harus
kemana? Aduh…dimana tasku? Jangan-jangan laki-laki itu…
“Heh! Cewek gila!”
Aku berbalik. Apa? Aku-kah sang “Cewek Gila” ?
“Nih! Tas lo!” Laki-laki bergaya punk itu melemparkan sebuah tas padaku.
Ternyata itu memang benar tasku, “dicek dulu…ntar dikira gue nyolong lagi!”
Aku segera mengecek seluruh isi tasku. Buku, dompet, hp. Semuanya masih
komplit. Aku senang laki-laki itu adalah orang yang jujur. Saat aku ingin
mengucapkan terima kasih laki-laki bergaya punk itu sudah menghilang. Kemana
perginya laki-laki itu? Ah…masa bodoh!
Aku bergegas menelepon pak Teguh untuk minta dijemput. Dan tak lama
kemudian Pak Teguh datang menjemputku. Aku bersyukur karena laki-laki bergaya
punk tadi menyelamatkanku, karena aku masih bisa bertemu Pak Teguh dan Mbak Jah
yang selalu sayang padaku.
“Mama khawatir banget ya, Pak?”
“Ehm…maaf non, dari tadi nyonya belum pulang. Jadi, Pak Teguh belum kasih
kabar ke nyonya,”
“Nggak papa kok, Pak!”
¨¨¨
Sepulang sekolah.
“Pak teguh, hari ini Jo nggak pulang. Jo mau ketemu
sama temen. Ntar Jo telpon lagi ya, Pak,”
“Oh…iya non,”
Aku berjalan menuju area kumuh kemarin. Aku ingin
menyampaikan ucapan terima kasihku pada laki-laki bergaya punk itu.
Bagaimanapun juga ia telah menyelamatkan nyawaku walau hal itu tak kuinginkan.
Tapi jujur, entah mengapa kemarin rasanya perasaanku lega sekali. Aku berhasil
melupakan masalah Mama dan Papa di rumah serta menghilangkan keterpurukanku
ditinggal Ara. Aku harus berterima kasih pada laki-laki bergaya punk itu.
Aku sudah memasuki area kumuh itu. Aku mencari rumah
gubuk laki-laki itu. Tapi, aku lupa. Rumah gubuk di daerah ini rata-rata
semuanya hampir sama. Hal ini membuatku semakin bertambah bingung. Apa aku
harus bertanya? Tapi, namanya saja aku belum tau. Aduh…gimana nih?
“Loh? Ada apa tuh?” Aku melihat ada sebuah
pengroyokan dan aku rasa korbannya laki-laki. Ramai sekali. Dan tidak hanya aku
saja yang melihat tapi ada beberapa orang yang melihat. Namun, mereka hanya
sekedar melihat. Tidak mau membantu laki-laki itu. Aku mendekat ke arah tempat
pengroyokan itu.
“Polisi! Polisi!” Aku berakting sedikit. Aku
berakting ketakutan seperti akan datang sekelompok polisi di sini. Para
tersangka itu lari tunggang langgang. Mereka salah tingkah. Ada yang langsung
lari. Dan ada yang masih memikirkan sandal bututnya. Lucu rasanya. Dan tanpa
sengaja aku sedikit tertawa. Hanya beberapa menit mereka sudah pergi. Ya
ampun…ternyata korban dari pengroyokan itu adalah laki-laki bergaya punk
kemarin. Aku berlari ke arahnya ingin membantu.
“Lo nggak papa?” Aku membantunya berdiri.
“Pake nanya lagi! Lo tau nggak bibir gue
berdarah-darah?” Laki-laki bergaya punk itu melepaskan tanganku.
“Sorry…Sorry…sini gue bantuin!” Aku membantunya
lagi. Walaupun aku tau sebenarnya ia tidak mau. Aku memapahnya menuju rumah
gubuknya. Eh…ternyata ada seorang anak kecil butut yang mengikuti kami,
“Eh…adek, kakak minta tolong beliin kapas sama obat merah ya? Ini uangnya,”
Tangan kiri-ku menyodorkan uang lima puluh ribu pada anak kecil butut itu. Ia
hanya mengangguk.
“Gue nggak butuh obat merah! Ngapain lo beli obat
merah?” Laki-laki bergaya punk yang kesakitan itu masih saja bersikap jutek
padaku.
“Idih…siapa juga yang mau beliin lo obat merah? GR
deh!” Aku sedikit menggodanya. Aku tau benar rasanya. Bibir berdarah-darah,
pipi lebam-lebam dan aku rasa perutnya juga sakit. Apa sih yang sebenarnya
terjadi?
Akhirnya kami berdua sampai di rumah gubuknya. Aku
mengambilkan segelas air putih untuknya. Ia membaluri lukanya dengan air putih
yang kuberikan tadi. Ia merintih kesakitan.
“Sakit ya?”
“Udah tau nanya?” Laki-laki bergaya punk itu masih
saja jutek menanggapiku.
Anak kecil butut itu kembali. Ia menyerahkan kapas,
obat merah dan beberapa ribu uang kembalian.
“Makasih ya,” Aku tersenyum pada anak kecil butut
itu. Kasihan sekali dia. Kurus dan kering kerontang. Hidupnya tak terurus.
Kotor dan nampaknya tak sehat bagiku. Aku mengobati laki-laki bergaya punk itu
dengan obat merah. Setelah selesai, laki-laki bergaya punk itu beristirahat
sejenak.
“Makasih ya Bang,” Akhirnya anak kecil butut yang
dari tadi diam saja itu angkat bicara. Ia mengusap-usap lengan laki-laki
bergaya punk itu.
“Nggak papa! Lain kali lo harus jadi anak yang
berani. Lo harus perjuangin apa yang jadi hak lo. Ok?” Laki-laki bergaya punk
itu tersenyum manis dan mengajak anak kecil butut itu untuk tos bersamanya.
Entah mengapa aku tersenyum bangga melihatnya. Harus menjadi anak yang berani
untuk perjuangin apa yang jadi haknya. Kata-kata hebat yang kudengar dari
laki-laki bergaya punk itu menyentuh hatiku. Bodohnya aku yang ingin bunuh diri
kemarin. Aku punya segalanya dan mungkin anak kecil itu tidak. Eh, tapi aku
malah ingin membuangnya. Dasar Jo bodoh!
“Ehhhemmm….ngelamun nih!” Laki-laki bergaya punk itu
berdehem mengagetkanku. Aku sedikit terlena.
“Ih…sorry ya, ngelamun apaan? Orang gue nggak
ngelamun kok!” Aku mengelak karena aku sedikit malu dengannya. Aku terlihat
bodoh di depannya.
“Nggak usah malu sama gue,” Aduh…nada itu. Seperti
nada suara Ara jika sedang memanjakan aku. Aku sedikit rindu dengan Ara.
“Gue nggak malu kok! Gue apa adanya,” Hek. Apa
adanya? Aduh…aku kok jadi gombal gini. Dasar laki-laki gila!
“Gue Aboy…panggil aja Boy,” Laki-laki bergaya punk
itu mengulurkan tangannya padaku. Ia tersenyum. Manis.
“Gue…”
“Jovana,” Laki-laki itu menyela perkataanku. Aku
mengerutkan dahi.
“Kok?” Aku sedikit bingung.
“Lo lupa masih pake baju seragam?”
Ya ampun…bodohnya kamu, Jo. Aku tersenyum. Boy pun
tersenyum padaku. Lama-lama kami berdua tertawa bersama. Rasanya sungguh damai.
Jika aku boleh meminta lebih, aku ingin moment ini tetap terus ada dalam
hidupku. Sudah lama aku tak tertawa lepas seperti ini. Dan kini rasanya sungguh
nyaman. Aboy, terima kasih.
¨¨¨
Seterusnya aku selalu berjumpa dengan Boy sepulang
sekolah. Kurang lebih sudah seminggu kami berteman. Aku bahagia. Aku merubah
sedikit sifatku yang sebenarnya aku benci. Kini, aku menjadi anak perempuan
yang bahagia. Hidupku penuh senyum semenjak aku berteman dengan Boy. Laki-laki
bergaya punk itu adalah malaikat. Dan aku tidak ingin meninggalkannya. Sedikit
mengerti aku tentang latar belakangnya. Ia sudah menjadi anak yatim piatu saat
berumur 10 tahun. Lalu, ia tinggal di sebuah panti asuhan. Boy memang hanya
mengenyam bangku sekolah sampai tamat SMP. Setelah itu ia memutuskan untuk
mandiri. Seharusnya, ia sudah kuliah sekarang. Tapi, “untuk makan saja susah,
gimana mau sekolah?” katanya. Hidup Boy penuh perjuangan. Ia dan beberapa
temannya membangun sebuah sekolah membaca di area kumuh ini. Boy mengajar di
sekolahnya dari pagi hingga siang dan selebihnya ia mencari uang. Dari
mengamen, memulung dan menjual barang bekas yang di sulap menjadi barang mewah.
Boy inspirasi terbesarku. Aku tak malu lagi untuk memperlihatkan perasaanku di
depan orang. Jika aku tak suka, aku bilang tak suka. Jika aku ingin menangis,
aku akan menangis. Aboy adalah malaikatku.
“Ya sudah, besok kita lanjutin lagi ya? Jangan lupa
belajar ya di rumah,” Aboy menutup kelasnya hari ini. Aku menunggu di luar. Aku
tersenyum padanya yang sedang berjalan ke arahku.
“Capek?”
“Enggak…” Jawabku. Aku memang sangat senang melihat
Boy mengajar anak-anak butut itu dengan gaya punk-nya. Terlihat unik dan
eksotis. Boy mengelus rambutku. Aku tersenyum lagi.
“Boy…kenapa sih lo…ehm, maksud gue kenapa harus
punk?” Aku menatapnya tajam. Aku sangat penasaran dengan jawabannya mengenai
hal yang satu ini.
“Lo aneh-aneh aja! Ehm…apa ya? Menurut gue punk itu
solid. Persaudaraan di dalamnya itu kentel banget. Itu yang bikin gue suka
banget sama anak-anaknya. Lagian kehidupan setiap orangnya tu penuh dengan
seni. Mereka bebas berekspresi. Ini yang gue butuhin, bebas berekspresi,” Aku
terpesona mendengar penjelasan Boy yang sangat detail. Aku pikir Boy hanya akan
mengatakan bahwa “punk itu seni”. Tapi, dugaanku salah besar. Pemikiran Boy
sangat luas dan penuh inspirasi.
“Bang…Acil Bang!” Tiba-tiba seorang laki-laki
berlari ke arah aku dan Boy. Aneh saja aku tidak suka dengan kehadiran
laki-laki itu. Aku pikir laki-laki itu akan merebut Boy dariku.
“Kenapa Acil?” Seketika Boy berdiri.
“Dikejar polisi Bang, mereka pikir Acil
gelandangan!” Laki-laki itu berhenti tepat di depan aku dan Boy berada. Boy
hendak membantu Acil, anak butut yang waktu itu sudah ia selamatkan. Tapi,
hatiku berkata tidak.
“Boy…,” Aku memegang lengan Boy.
“Please Jo…, gue udah anggap Acil adek gue sendiri,”
Boy memegang kedua pipiku. Rasanya dingin. Boy akan meninggalkanku. Boy tetap
berlari membantu Acil. Aku terpaku. Boy pun akan meninggalkanku. Tapi, tidak
boleh. Boy hampir tidak terlihat olehku. Aku berlari mengejarnya. Namun, saat
sampai di pertigaan jalan Boy sudah tidak terlihat. Aku menambah laju kedua
kakiku. Aku sampai di pertigaan jalan. Aku tak tau Boy ada dimana. Ia
menghilang.
“Door! Door!” Aku mendengar suara tembakan. Hatiku
berdegub kencang. Mungkinkah itu Boy? Oh, semoga saja tidak. Aku mendekati
suara tembakan itu.
Aku menemukan Boy. Akhirnya aku menemukan Boy. Tapi
Boy yang berbeda. Boy yang terbujur kaku di tengah jalan. Aku berjalan
sempoyongan mendekati tubuh kaku itu. Aku memegangnya. Aku memegang dahinya.
Boy tertembak. Boy, malaikatku akhirnya berhasil menyelamatkan adiknya. Tapi,
ia meninggalkanku. Boy mati. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan tubuh
kakunya. Ia tidak mendengarku. Boy tidak mendengarkan tangisanku. Boy telah
meninggalkanku.
¨¨¨
Hariku kembali seperti biasa. Tapi aku terlanjur
menjadi anak perempuan yang berbeda. Anak perempuan yang lebih bahagia. Bahagia
demi Boy. Aku meneruskan perjuangan Boy di sekolah membaca. Aku tersadar akan
sesuatu hal bahwa Boy akan selalu hidup di hatiku. Walaupun pertemuan kami
sangat singkat. Walaupun hanya sebentar aku mengenalnya. Tapi, yang terpenting
aku bahagia. Bahagia demi Boy. Terima kasih Boy. Aku menjadi anak perempuan
yang bahagia dan tegar sekarang.
TAMAT