Sorry
Hampir 2 tahun ini aku dan si bocah manja itu bermusuhan. Sangat tragis memang. Aku harus satu sekolah dengan musuh bebuyutanku sendiri. Bahkan takdir menghendaki kami untuk duduk satu kelas selama 3 tahun. Namanya Tama, anak laki-laki paling manja yang pernah aku kenal. Dan kini aku membencinya. Alasan yang sederhana untuk sebuah pertengkaran katanya. Tapi aku tidak menganggapnya sederhana. Tama memang memiliki segalanya, harta dan apalah itu yang disebut surga dunia. Sedangkan aku, bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan. Namun, formulir pendaftaran itu sangat penting bagiku.
Ya, mungkin orang lain juga akan berfikir bahwa itu masalah sepele yang tidak perlu dilebar-lebarkan sampai sekarang yang sudah kurang lebih 2 tahun ini. Aku pun juga kadang merasakan hal itu. Tapi entah mengapa aku tidak terima dengan perlakuannya. Tama, si anak manja itu sudah menginjak formulir pendaftaran milikku. Dan dia tidak akan pernah tau seberapa besar pengorbananku untuk mendapatkan formulir pendaftaran itu. Tapi, saat itu dia hanya berkata,
“Lo gimana sih? Hati-hati dong kalo jalan!” Bukannya meminta maaf tapi si anak manja itu malah menyalahkanku. Padahal, Tama dan teman-temannya yang menabrakku saat itu sampai-sampai kertas formulir pendaftaranku jatuh dan Tama menginjaknya. Sejak saat itu pula kami bermusuhan.
☻☻☻
“Hai Nis...!”
Sebuah suara mengagetkanku. Tak terasa aku sudah sampai di depan kelas. Tama ada di depanku. Anak manja itu memasang tampang sumringah. Dia tersenyum padaku. Dan hal pertama yang aku pikirkan “ni anak kesambet apaan sih tadi malam?” Tanpa berfikir panjang aku langsung masuk ke kelas tanpa menghiraukannya. Aku menuju tempat duduk favoritku.
“Ayolah Nis...jangan cuekin gue,” Tama mengikutiku. Dia duduk di sebelahku. Aku hanya diam dan berfikir. Ya, mungkin anak manja ini salah minum obat. Aku masih diam saja. Masih asyik dengan duniaku sendiri.
“Sorry...gue minta maaf,”
Aku kaget. Kupandang mata Tama yang kini menatapku dengan tajam. Aku tak yakin hari ini akan benar-benar datang. Hari dimana kami akhirnya akan berteman kembali.
“Lo sakit Tam? Lo gag biasanya tau ngomong dengan nada lembut seperti ini. Ini bukan gaya lo! Biasanya kalo lo ketemu gue, lo langsung buang muka terus bersikap kasar sama gue. Tapi sekarang...” Tiba-tiba aku kehilangan akal untuk berbicara apa. Tama tersenyum padaku dengan tatapan yang tidak biasanya. Dan hal itu membuatku berhenti berbicara. Aku mengerutkan dahi.
“Please Nis...sekali ini aja, gue gag mau berantem sama lo lagi. Gue mau mulai saat ini kita baikan. Gue minta maaf karena selama ini gue udah bikin hidup lo sengsara. Sebenernya waktu itu gue gag sengaja, formulir itu jatuh dan gue injek. Gue juga udah bikin cita-cita lo berantakan, maafin gue ya...” Tama memegang tanganku. Ia menatap mataku dengan tajam. Entah mengapa wajah Tama terlihat lebih putih dari biasanya. Tapi, kali ini cenderung terlihat pucat dan lemas. Tama terlihat sangat tulus.
“Lo ada masalah Tam? Kalo lo ada masalah, cerita aja sama gue. Mulai saat ini kita berteman kok! Dan gue udah maafin lo,” Aku mulai menampakkan senyumku. Namun tiba-tiba Tama melepaskan genggaman tangannya dariku. Dan tatapannya beralih dari tatapanku.
“Tadi malam gue mimpi. Gue bakal pergi jauh,” Tama menundukkan kepalanya. Aku mulai melihat matanya berkaca-kaca.
“Pergi? Pergi kemana? Singapore? Lo mau nyusul nyokap lo?” Dengan gerak reflek aku memegang punggung tangannya.
“Gue gag tau Nis...di mimpi gue, tempat itu serba putih dan gag ada siapa-siapa di sana. Di sana kita gag bisa saling ketemu dan bertengkar. Gue sendiri di sana. Maka dari itu sebelum gue pergi, gue gag mau punya musuh yang ngebenci gue. Gue nitip salam ya buat temen-temen di sini. Kalo misalnya nanti gue jadi pergi, gue pingin pergi dengan tenang,” Aku mengerutkan dahi. Mencoba mencerna pembicaraan ini satu-satu. Tak biasanya Tama berbicara seserius ini. Suaranya sangat lembut dan terkesan patah semangat. Tapi nadanya tetap tegar. Aku semakin tak mengerti. Kemarin dia masih baik-baik saja, masih bersikap kasar padaku. Tapi, itulah Tama sebenarnya.
“Lo mau kemana sih Tam? Kayak orang mau mati aja,”
Tiba-tiba saja aku mengeluarkan kata-kata tadi. Dan hal itu membuatku sedikit merinding. Aku memegang tangan Tama semakin kencang. Jantungku juga berdegub semakin kencang. Aku tak tau alasan mengapa aku mengucapkan kata-kata tadi.
“Nis...pada dasarnya, semuanya akan berakhir kan? Jangan ingat keburukan gue ya! Selamat tinggal,” Tama tersenyum padaku. Manis. Namun, manisnya senyum Tama itu tertutup dengan semakin pucat wajahnya. Dengan perlahan dia melepaskan genggaman tanganku. Aku membatu. Tama beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya ke pintu keluar kelas. Aku mengerutkan dahi ketika melihat punggung Tama sekilas dan menyadari ada bercak darah di sana. Aku ingin memanggilnya namun suaraku tak mau keluar.
Tama menghilang dari hadapanku.
☻☻☻
“Woi! Ngelamun aja, kesambet baru tau rasa lo!” Sebuah suara kembali mengagetkanku. Aku masih asyik duduk di tempat duduk favoritku. Aku baru tersadar tadi hanya khayalanku saja. Suara itu kepunyaan Dita, teman sekelasku.
“Ngapain lo Nis pagi-pagi uda nongol? Biasanya juga nelat. Kan lo sendiri yang bilang, lo gag mau ketemu Tama lama-lama,” Aku melihat jam tanganku.
“Eh, iya ya masih pagi banget...” Jadi aku sampai saat ini belum bermaafan dengan Tama? Hal itu benar-benar hanya khayalanku saja. Aku melamun sebentar.
“Nis...? Kenapa sih lo?”
“Engga...gag papa kok!” Aku tersenyum pada temanku, Dita. Dia memang sahabatku yang paling protektif.
Aku tersenyum lagi. Mengingat kejadian tadi dan berandai-andai semoga kejadian tadi menjadi kenyataan. Jika memang iya, bahagianya aku. Aku akan menghabiskan sisa waktuku di sekolah ini dengan bersikap baik pada Tama. Dan aku juga akan menjadi temannya. Aku tersenyum.
Tak lama kemudian, bel masuk telah berbunyi. Seisi kelas masih tampak berantakan dan berisik seperti biasanya. Aku mencoba mencari Tama. Namun, aku belum menemukan batang hidung anak manja itu. Sepertinya Tama tidak masuk hari ini. “Tama pasti bolos lagi...” pikirku.
Suara sepatu high heels Bu Susi sudah terdengar. Seisi kelas pun membisu. Dan ini hal yang sangat biasa terjadi dalam kehidupanku. Bu Susi, sang wali kelas masuk ke dalam kelas kami dengan perlahan. Look-nya tidak terlalu menarik. Karena beliau mengenakan baju yang serba hitam. Setahuku, Bu Susi tidak pernah menganggap warna hitam adalah warna yang cocok untuk kegiatan belajar mengajar.
Bu Susi duduk di tempat duduknya dan berkata,
“Anak-anak...Sebenarnya berat untuk Ibu, untuk menyampaikan hal ini ke kalian semua. Tadi pagi, sebelum Ibu berangkat. Ibu menerima sebuah kabar bahwa teman kalian saat akan berangkat ke sekolah tadi mengalami kecelakaan. Dan kecelakaan tersebut telah merenggut nyawanya. Teman kalian itu adalah Tama. Tama telah meninggal dunia,” Bu Susi tak kuasa menahan tangisnya. Begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Seisi kelas mulai pecah oleh tangisan kecuali aku. Aku tak sanggup. Air mataku tak mau keluar. Tapi dadaku mulai sesak.
Aku tak percaya dengan apa yang baru saja Bu Susi katakan. Kalimat terburuk yang pernah aku dengar. Aku bahkan tak mau mendengarnya lagi. Tadi pagi aku masih bertemu Tama. Tama mendatangiku dan meminta maaf padaku. Itu Tama dan bukan orang lain. Aku yakin itu.
“Nis..., Tama Nis...Tama udah gag ada,”
Dita memelukku dari samping. Aku hanya membatu. Dadaku mulai sesak. Kepalaku pening. Dan satu per satu air mataku mulai jatuh.
“Tama...sorry,”
SELESAI
