Minggu, 01 Januari 2012

Surat yang membuat ku menangis

Diposting oleh PeriAi di 23.10 0 komentar

Aku hanya ingin berbagi dengan anda. Tentang pengaruh sebuah buku. Aku membeli sebuah buku di Gramedia saat ada sebuah pameran buku. Jujur, alasan pertama saat membelinya hanya karena buku itu bercover warna kuning dimana kuning adalah warna kesukaanku. Tapi, setelah aku membawa pulang dan membacanya. Hidupku terasa lebih terang. Buku ini berisi kumpulan kisah motivasi. Ya, memang sangat memotivasiku untuk lebih berani. Dan sekaligus buku ini telah menyadarkanku tentang suatu hal. Mungkin anda pun akan merasakan hal yang sama seperti kurasakan. Ini isinya,

Surat Dari Tuhan

Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara pada-Ku, meskipun hanya sepatah kata meminta pendapat-Ku atau bersyukur pada-Ku atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini dan kemarin.
Namun, Aku melihatmu begitu sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja. Aku kembali menanti dirimu saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-Ku, tetapi engkau terlalu sibuk.
Di suatu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan suatu apapun. Kemudian Aku melihatmu menggerakkan kakimu. Aku berfikir engkau akan berbicara pada-Ku, tetapi engkau malah berlari ke telepon dan menelepon seseorang untuk mendengarkan berita terbaru. Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu pada-Ku.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara pada-Ku. Itulah sebabnya engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja di sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut nama-Ku dengan lembut sebelum mereka menyantap rizki yang Aku berikan. Tetapi engkau tidak melakukannya. Bagi-Ku tidak apa-apa, masih ada wakttu tersisa dan Aku berharap engkau akan berbicara pada-Ku, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya masih banyak yang harus engkau kerjakan. Lalu, setelah tugasmu selesai, engkau pun menyalakan TV dan engkau habiskan banyak waktu untuk menontonnya. Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu, tetapi engkau lupa tidak berbicara kepada-Ku.
Saat engkau tidur, Aku berfikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam pada keluargamu, engkau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatah katapun nama-Ku engkau sebut. Tidak apa-apa, karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu. Aku telah bersabar lebih lama dari yang pernah engkau sadari. Aku bahkan ingin mengajari bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat menyayangimu. Setiap hari aku menantikan sepatah kata, doa, pikiran atau ucapan syukur di hatimu. Baiklah, engkau bangun kembali dan kembali Aku menantimu dengan penuh kasih bahwa hari ini engkau akan memberimu sedikit waktu untuk menyapa-Ku.
Aku sendiri bertanya-tanya, apa salah-Ku padamu ? Rizki yang Aku limpahkan, kesehatan yang Aku berikan, harta yang Aku relakan, makanan yang Aku hidangkan, anak-anak yang Aku Rahmatkan ? Apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada-Ku ?
Percayalah Aku selalu mengasihimu dan Aku tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa-Ku, memohon perlindungan-Ku, dan bersujud menghadap-Ku.

Tertanda,
Yang selalu menyertaimu setiap saat,


Tuhan Sang Pencipta

Astagfirrullah…

Kebahagiaan Para Petani

Diposting oleh PeriAi di 23.06 1 komentar
“ Selamat tahun baru!” Kalimat yang sangat tepat untuk diucapkan saat ini. Pasti banyak sekali doa teriring harapan yang akan terucap di awal tahun 2012 ini. Dan aku yakin akan banyak cara untuk mensyukuri tahun 2011 yang penuh dengan kenangan.
Di awal tahun 2012 ini aku banyak berdoa dan berharap untuk kehidupanku selanjutnya. Dan tentunya semua orang akan seperti itu. Senang juga bila melihat para petani yang sedang memanen padinya saat ini. Kebetulan depan rumahku ada sawah yang terbentang luas. Jadi aku dan keluargaku bisa menyaksikan sibuknya para petani yang sedang memanen kebahagiaannya itu. 








Rona bahagia terpancar di wajahnya. Tatkala membawa sekarung padi yang sudah masak. Itu dapat berarti banyak untuk beliau. Karena artinya, beliau dapat mengawali tahun 2012 ini dengan kebahagiaan. Beliau dapat pulang ke rumah dengan senyuman kebahagiaan. Itu sebuah awal yang baik. Dan mudah-mudahan kita semua dapat mengawali tahun 2012 ini dengan kebahagiaan pula. Amin Ya Robbal Alamin.

SIM…Oh SIM…

Diposting oleh PeriAi di 20.50 0 komentar
“ Selamat tahun baru!” Kalimat yang sangat tepat untuk diucapkan saat ini. Pasti banyak sekali doa teriring harapan yang akan terucap di awal tahun 2012 ini. Dan aku yakin akan banyak cara untuk mensyukuri tahun 2011 yang penuh dengan kenangan.
Di akhir tahun 2011 ini aku lalui hariku dengan “mencari SIM”. Sebenarnya sudah lama ingin mencari SIM atau lebih tepatnya ingin mendapatkan SIM. Namun, banyak sekali rutinitas yang terasa hampir mencekikku. Jadi baru terwujud di akhir tahun ini. Awalnya berbagai persepsi muncul dibenakku. Tentang soal ujian teori yang susah. Apalagi ujian praktek yang setauku teman-temanku saja belum ada yang mengalahkan rekor untuk “LULUS”. Dan bagiku itu sangat mengerikan. 


Tapi ternyata, tidak se-mengerikan di bayanganku. Aku dan Bapak pergi ke kantor polisi Karanganyar pagi sekitar pukul 08.00. Sampai di sana manusia yang memiliki takdir sepertiku lumayan banyak. Mencari SIM C Baru. 

Hal yang harus dipersiapkan untuk mencari SIM C Baru :
1.       1. Fotokopi KTP 4 lembar
2.       2. Surat Keterangan Sehat dari dokter yang berada tepat di sebelah kantor polisi
3. Poin ke 1 dan 2 dimasukkan ke dalam sebuah map warna biru 

Setelah kedua hal tersebut dapat kupenuhi. Aku menunggu sebentar lalu tibalah saat dimana aku ujian teori. Ada 30 soal yang harus aku jawab dengan benar. Aku cukup tenang saat mengerjakannya, karena manusia yang bertakdir sama denganku sangat sedikit. Jadi, aku PD saja menjalaninya. Ada beberapa soal yang tak bisa kujawab. Tapi, karena itu jawab silang. Kesempatan untuk menjawab dengan “ngawur” pun kujalani. Dan ternyata, Alhamdulillah aku “LULUS”. Yeyyyyy…



Lalu, tibalah saat dimana aku ujian praktek. “Pejuang Pencari SIM dengan Jujur” pendahuluku “TIDAK LULUS” semua. Dan aku pun sama dengan mereka. Hahaha. Tapi, itu sungguh pengalaman yang menarik Buat aku penasaran. Karena ternyata masih ada 2 kesempatan lagi. Dan untuk kesempatan kedua aku harus kembali menjalani ujian praktek maksimal 14 hari setelah ujian praktek pertama. Aku baru kembali kemarin, tanggal 30 Desember. Sedikit “BeTe” karena polisinya datang terlambat dan aku harus kuliah di jam 9.20. Banyak yang mengantri juga. Dan aku “TIDAK LULUS” lagi.

Sedikit sedih memang. Apa sih strategi yang tepat? Tapi, aku sedikit bangga. Karena aku sudah Jujur pada diriku sendiri. Banyak para Ibu dan Bapak yang juga mengantar anaknya untuk mencari SIM. Dan mereka banyak juga yang mendekati Sang Polisi untuk meminta tolong membuatkan SIM Palsu. Alian SIM “Tembak”. Hal itu awalnya aku tidak setuju. Karena bayangkan saja, “Hal yang akan kita punyai satu kali dalam hidup kita, Apakah mungkin mempunyainya dengan kebohongan?”. Rada tidak adil. Memang sih mencari SIM C sangat susah. Jalan zigzag, jalan angka delapan, lurus, putar balik, yang harus dilalui. Tapi, itu semua kan standard kelulusan mendapatkan SIM. Dimana kita harus menjalani semuanya demi keamanan kita bersama.

Selasa, 27 Desember 2011

Hasil Karyaku, Cerpen "Sorry"

Diposting oleh PeriAi di 16.23 2 komentar

Sorry

Hampir 2 tahun ini aku dan si bocah manja itu bermusuhan. Sangat tragis memang. Aku harus satu sekolah dengan musuh bebuyutanku sendiri. Bahkan takdir menghendaki kami untuk duduk satu kelas selama 3 tahun. Namanya Tama, anak laki-laki paling manja yang pernah aku kenal. Dan kini aku membencinya. Alasan yang sederhana untuk sebuah pertengkaran katanya. Tapi aku tidak menganggapnya sederhana. Tama memang memiliki segalanya, harta dan apalah itu yang disebut surga dunia. Sedangkan aku, bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan. Namun, formulir pendaftaran itu sangat penting bagiku.
          Ya, mungkin orang lain juga akan berfikir bahwa itu masalah sepele yang tidak perlu dilebar-lebarkan sampai sekarang yang sudah kurang lebih 2 tahun ini. Aku pun juga kadang merasakan hal itu. Tapi entah mengapa aku tidak terima dengan perlakuannya. Tama, si anak manja itu sudah menginjak formulir pendaftaran milikku. Dan dia tidak akan pernah tau seberapa besar pengorbananku untuk mendapatkan formulir pendaftaran itu. Tapi, saat itu dia hanya berkata,
          “Lo gimana sih? Hati-hati dong kalo jalan!” Bukannya meminta maaf tapi si anak manja itu malah menyalahkanku. Padahal, Tama dan teman-temannya yang menabrakku saat itu sampai-sampai kertas formulir pendaftaranku jatuh dan Tama menginjaknya. Sejak saat itu pula kami bermusuhan.

☻☻☻

          “Hai Nis...!”
Sebuah suara mengagetkanku. Tak terasa aku sudah sampai di depan kelas. Tama ada di depanku. Anak manja itu memasang tampang sumringah. Dia tersenyum padaku. Dan hal pertama yang aku pikirkan “ni anak kesambet apaan sih tadi malam?” Tanpa berfikir panjang aku langsung masuk ke kelas tanpa menghiraukannya. Aku menuju tempat duduk favoritku.
“Ayolah Nis...jangan cuekin gue,” Tama mengikutiku. Dia duduk di sebelahku. Aku hanya diam dan berfikir. Ya, mungkin anak manja ini salah minum obat. Aku masih diam saja. Masih asyik dengan duniaku sendiri.
“Sorry...gue minta maaf,”
Aku kaget. Kupandang mata Tama yang kini menatapku dengan tajam. Aku tak yakin hari ini akan benar-benar datang. Hari dimana kami akhirnya akan berteman kembali.
“Lo sakit Tam? Lo gag biasanya tau ngomong dengan nada lembut seperti ini. Ini bukan gaya lo! Biasanya kalo lo ketemu gue, lo langsung buang muka terus bersikap kasar sama gue. Tapi sekarang...” Tiba-tiba aku kehilangan akal untuk berbicara apa. Tama tersenyum padaku dengan tatapan yang tidak biasanya. Dan hal itu membuatku berhenti berbicara. Aku mengerutkan dahi.
“Please Nis...sekali ini aja, gue gag mau berantem sama lo lagi. Gue mau mulai saat ini kita baikan. Gue minta maaf karena selama ini gue udah bikin hidup lo sengsara. Sebenernya waktu itu gue gag sengaja, formulir itu jatuh dan gue injek. Gue juga udah bikin cita-cita lo berantakan, maafin gue ya...” Tama memegang tanganku. Ia menatap mataku dengan tajam. Entah mengapa wajah Tama terlihat lebih putih dari biasanya. Tapi, kali ini cenderung terlihat pucat dan lemas. Tama terlihat sangat tulus.
“Lo ada masalah Tam? Kalo lo ada masalah, cerita aja sama gue. Mulai saat ini kita berteman kok! Dan gue udah maafin lo,” Aku mulai menampakkan senyumku. Namun tiba-tiba Tama melepaskan genggaman tangannya dariku. Dan tatapannya beralih dari tatapanku.
“Tadi malam gue mimpi. Gue bakal pergi jauh,” Tama menundukkan kepalanya. Aku mulai melihat matanya berkaca-kaca.
“Pergi? Pergi kemana? Singapore? Lo mau nyusul nyokap lo?” Dengan gerak reflek aku memegang punggung tangannya.
“Gue gag tau Nis...di mimpi gue, tempat itu serba putih dan gag ada siapa-siapa di sana. Di sana kita gag bisa saling ketemu dan bertengkar. Gue sendiri di sana. Maka dari itu sebelum gue pergi, gue gag mau punya musuh yang ngebenci gue. Gue nitip salam ya buat temen-temen di sini. Kalo misalnya nanti gue jadi pergi, gue pingin pergi dengan tenang,” Aku mengerutkan dahi. Mencoba mencerna pembicaraan ini satu-satu. Tak biasanya Tama berbicara seserius ini. Suaranya sangat lembut dan terkesan patah semangat. Tapi nadanya tetap tegar. Aku semakin tak mengerti. Kemarin dia masih baik-baik saja, masih bersikap kasar padaku. Tapi, itulah Tama sebenarnya.
“Lo mau kemana sih Tam? Kayak orang mau mati aja,”
Tiba-tiba saja aku mengeluarkan kata-kata tadi. Dan hal itu membuatku sedikit merinding. Aku memegang tangan Tama semakin kencang. Jantungku juga berdegub semakin kencang. Aku tak tau alasan mengapa aku mengucapkan kata-kata tadi.
“Nis...pada dasarnya, semuanya akan berakhir kan? Jangan ingat keburukan gue ya! Selamat tinggal,” Tama tersenyum padaku. Manis. Namun, manisnya senyum Tama itu tertutup dengan semakin pucat wajahnya. Dengan perlahan dia melepaskan genggaman tanganku. Aku membatu. Tama beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya ke pintu keluar kelas. Aku mengerutkan dahi ketika melihat punggung Tama sekilas dan menyadari ada bercak darah di sana. Aku ingin memanggilnya namun suaraku tak mau keluar.
Tama menghilang dari hadapanku.

☻☻☻

“Woi! Ngelamun aja, kesambet baru tau rasa lo!” Sebuah suara kembali mengagetkanku. Aku masih asyik duduk di tempat duduk favoritku. Aku baru tersadar tadi hanya khayalanku saja. Suara itu kepunyaan Dita, teman sekelasku.
“Ngapain lo Nis pagi-pagi uda nongol? Biasanya juga nelat. Kan lo sendiri yang bilang, lo gag mau ketemu Tama lama-lama,” Aku melihat jam tanganku.
“Eh, iya ya masih pagi banget...” Jadi aku sampai saat ini belum bermaafan dengan Tama? Hal itu benar-benar hanya khayalanku saja. Aku melamun sebentar.
“Nis...? Kenapa sih lo?”
“Engga...gag papa kok!” Aku tersenyum pada temanku, Dita. Dia memang sahabatku yang paling protektif.
Aku tersenyum lagi. Mengingat kejadian tadi dan berandai-andai semoga kejadian tadi menjadi kenyataan. Jika memang iya, bahagianya aku. Aku akan menghabiskan sisa waktuku di sekolah ini dengan bersikap baik pada Tama. Dan aku juga akan menjadi temannya. Aku tersenyum.
Tak lama kemudian, bel masuk telah berbunyi. Seisi kelas masih tampak berantakan dan berisik seperti biasanya. Aku mencoba mencari Tama. Namun, aku belum menemukan batang hidung anak manja itu. Sepertinya Tama tidak masuk hari ini. “Tama pasti bolos lagi...” pikirku.
Suara sepatu high heels Bu Susi sudah terdengar. Seisi kelas pun membisu. Dan ini hal yang sangat biasa terjadi dalam kehidupanku. Bu Susi, sang wali kelas masuk ke dalam kelas kami dengan perlahan. Look-nya tidak terlalu menarik. Karena beliau mengenakan baju yang serba hitam. Setahuku, Bu Susi tidak pernah menganggap warna hitam adalah warna yang cocok untuk kegiatan belajar mengajar.
Bu Susi duduk di tempat duduknya dan berkata,
“Anak-anak...Sebenarnya berat untuk Ibu, untuk menyampaikan hal ini ke kalian semua. Tadi pagi, sebelum Ibu berangkat. Ibu menerima sebuah kabar bahwa teman kalian saat akan berangkat ke sekolah tadi mengalami kecelakaan. Dan kecelakaan tersebut telah merenggut nyawanya. Teman kalian itu adalah Tama. Tama telah meninggal dunia,” Bu Susi tak kuasa menahan tangisnya. Begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Seisi kelas mulai pecah oleh tangisan kecuali aku. Aku tak sanggup. Air mataku tak mau keluar. Tapi dadaku mulai sesak.
Aku tak percaya dengan apa yang baru saja Bu Susi katakan. Kalimat terburuk yang pernah aku dengar. Aku bahkan tak mau mendengarnya lagi. Tadi pagi aku masih bertemu Tama. Tama mendatangiku dan meminta maaf padaku. Itu Tama dan bukan orang lain. Aku yakin itu.
“Nis..., Tama Nis...Tama udah gag ada,”
Dita memelukku dari samping. Aku hanya membatu. Dadaku mulai sesak. Kepalaku pening. Dan satu per satu air mataku mulai jatuh.
“Tama...sorry,”



SELESAI

Bapak itu “Ceria” sekali.

Diposting oleh PeriAi di 04.39 3 komentar
Sudah kurang lebih hampir 5 bulan aku merasakan pahit dan manisnya naik kendaraan umum, bis. Dan kini aku mulai mengenal apa saja yang dianugerahkan Allah dalam kehidupanku di luar. Sedikit informasi saja, jika anda naik bis jurusan apa saja dan berhenti di terminal Palur. Anda akan menemui 5 macam orang. Jika bis telah sampai di terminal Palur, yang pertama kali masuk adalah para pengamen yang bermain rombongan dan saat mereka masuk bis mereka mengeluh bahwa mereka belum makan seharian. Padahal mereka bisa membayar pasang tato sampai memenuhi badan mereka. Jujur, aku tak pernah dan tidak akan pernah memberi mereka.  Yang kedua, penjual koran. Beliau selalu menawarkan koran "Joglo semar". Yang ketiga pedagang yang berjualan telur puyuh yang seharga seribu rupiah. Beliau ini terlihat tidak sabaran. Setiap dagangannya tidak laku, beliau akan mengeluh. Dan aku tidak begitu suka dengannya. Yang keempat, pedagang arem-arem dan tahu asin. Beiau terlihat "sangar". Tapi, sangat sopan menjajakan dagangannya. Dan yang kelima ini terlihat berbeda.


Beliau adalah pedagang es dan buah. Geli memang saat memperhatikan kumisnya yang menawan. Apalagi ditambah topi zaman dulu yang sangat unik. Beliau mengenakan topi ini baru 3 hari yang lalu. dulu, dia hanya mengenakan topi biasa. Hal yang menarik dari beliau adalah senyumnya. Bapak ini terlihat sangat ceria sekali menjajakan dagangannya. Dan uniknya lagi, selalu dagangannya yang dibeli orang. Entah atau hanya "pas" aku yang tau atau bagaimana. Entahlah! yang penting Bapak itu masih bisa mempertahankan "keceriaan"nya. Karena jika Bapak itu terlihat bahgia, orang yang melihatnya pun akan bahagia. Dan begitu seterusnya.


Mudah-mudahan Bapak itu punya banyak rezeki karena "keceriaan"nya. Amin

Bahkan diharinya, Ibu ini masih tetap bekerja

Diposting oleh PeriAi di 04.24 0 komentar

Setelah selesai kuliah, aku dan temanku bergegas menuju halte depan kampus, kegiatan yang biasa kujalani setelah perkuliahan selesai. Untungnya bis jurusan Tawangmangu-Solo itu segera datang dan tandanya aku bisa sampai di rumah lebih awal. Keadaan bis saat itu Alhamdulillah sepi. Aku dan temanku memilih tempat paling belakang, tempat yang biasa kaum laki-laki tempati. Sesampainya di terminal Palur. Ada seorang nenek yang naik. Ia membawa “bakul” dan duduk di sebelahku. Usia nenek itu kira-kira sudah lebih dari 70 tahun. Nenek itu berkali-kali mengusap keringat yang menetes di kepalanya. Sungguh kasihan sekali, nenek serenta itu masih harus mencari nafkah. Padahal logikanya, kalau nenek itu harus bekerja berarti nenek itu punya anak. Lalu, kenapa tidak anaknya saja yang mencari nafkah dan membiarkan sang nenek beristirahat saja di rumah? Pertanyaan ini selalu saja muncul di benakku setiap melihat nenek atau kakek yang sudah tua namun masih bekerja. Aku teringat, bahwa hari ini adalah hari Ibu. 

Subhanallah! Bahkan di harinya, Ibu ini masih bekerja. Bukankah seharusnya beliau ini beristirahat saja di rumah. Menggendong cucu atau memasak. Itu pekerjaan yang terbaik untuk seorang Ibu yang sudah renta seperti nenek itu. Apakah nenek ini sudah menerima hadiah atau bunga dari anaknya ya? Walau sebenarnya hari Ibu bukan satu-satunya hari untuk membuktikan rasa sayang kita pada Ibu, tapi hari Ibu adalah symbol bahwa Ibu adalah makhluk ciptaan Allah paling mulia di dunia. Aku langsung teringat dengan Ibuku di rumah. Apa Ibu ku juga masih bekerja di harinya?

Setidaknya, ia mencari uang halal.

Diposting oleh PeriAi di 04.20 0 komentar
 
Karena tugas kuliah yang sudah mulai menumpuk lagi, bebanku terasa makin berat saja. Memang bukan kata yang tepat sih, tapi aku tak tau lagi kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku. Rencananya hari ini akan ada UKD Pengantar Teknologi Informasi. Tapi ditunda. Perasaanku membuncah senang. Terang saja, karena malamnya aku tidak belajar. Entah insting atau apa, malam itu aku sama sekali tidak bernafsu untuk membuka materi tentang pascal.
Perjalananku kembali ke dalam kelas Biologi Umum. Seharusnya ini kelas Fisika Dasar. Namun, karena sang Dosen sedang berada di luar kota (Jangan lupa oleh-oleh peyemnya ya, Pak Risa). Jadi, karena ada satu dan lain hal, mata kuliah pagi ini diganti dengan Biologi Umum.
Sedikit kesal memang, sangat disayangkan. Tak tau mengapa atmosfir di kelas tidak mendukung untuk belajar mata kuliah Biologi Umum. Banyak teman-teman yang membuka Laptop. Sejauh yang kutau mereka belajar Praktikum Kalkulus. Tapi ada juga yang membuka facebook. Bahkan, ada kakak tingkat yang menonton bola. Ada juga teman-teman dan kakak tingkat yang mengobrol. Entah apa yang diobrolkan. Sementara aku sama sekali tak paham dengan apa yang diterangkan oleh sang Dosen. Atmosfir nya sungguh tidak mendukung untuk memenuhi isi catatanku.
Kuliah Biologi Umum selesai pada pukul 11.00 siang. Aku langsung melangkahkan kaki menuju gerbang belakang. Tentunya dengan berjalan kaki dan hawanya sangat tidak bersahabat. Sekitar 10 menit kemudian aku sampai di halte depan kampus. Pemandangan yang tidak seperti biasanya, sepi. Aku duduk di sana hampir 15 menit. Menanti bis yang akan mengantarku sampai ke rumah. Setelah 15 menit berlalu, mulai banyak berdatangan manusia yang sama sepertiku, menanti bis.
Aku terkesima ketika melihat seorang anak kecil yang kutemui tempo lalu di halte bis depan kampus. Seingatku, dia pengamen. Anak kecil itu mengamen dari bis ke bis. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Tertarik sekali aku dengannya. Anak kecil itu sangat kurus. Ukuran tangannya saja kalah dengan adikku yang baru berumur 4 tahun. Dan kurasa anak itu kurang lebih berumur anak SD kelas 5. Anak kecil itu memakai baju yang kebesaran. Dia duduk di dekatku waktu di halte. Jari tangan dan jari kakinya tidak begitu bersih. Ia berkali-kali menggaruk jari-jari tangannya ketika menunggu bis. Yang ada di pikiranku saat itu, “Kemana orang tua-nya?”

Apakah justru kedua orang tuanya yang menyuruhnya mengamen? Atau ia yatim piatu lalu mengamen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Apakah ia akan mendapat nasib sepertiku? Apakah ia pernah bersekolah? Apakah ia nantinya dapat mempunyai kesempatan sepertiku?
Aku mulai menyadari banyak hal dengan melihat anak kecil itu saja. Hidupku sudah sangat baik dibandingan dengan dia. Aku bisa bersekolah dan akhirnya mempunyai kesempatan unutk kuliah. Aku bisa merasakan lezatnya makanan yang dimasak Ibu di rumah. Aku bisa membeli barang yang kusuka dengan uang yang diberikan oleh Bapak. Lalu, bagaimana dengan anak itu?
Bis jurusan Tawangmangu-Solo akhirnya datang. Aku naik. Dan anak kecil itu juga naik.
Anak kecil itu mulai bernyanyi. Ia menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh ST12. Aku tak tau benar apa judulnya. Salah satu liriknya berbunyi, “Allahhuakbar Maha Besar…kumemujamu begitu indah,” seperti itu kurang lebih. Suaranya seperti kebanyakan pengamen lainnya. Besar dan serak. Mungkin karena ia sudah sering bernyanyi, bukan sering mungkin tapi setiap hari. 


Aku mendengar percakapannya dengan seorang Bapak yang sengaja bertanya padanya. Di Solo, anak kecil itu hanya tinggal dengan kakaknya. Kedua orang tuanya berada di Jakarta. Anak kecil itu tinggal di pinggir sungai Bengawan Solo bersama dengan kakaknya. Kakaknya bekerja sebagai penambang pasir. Kekhawatiran terbesarnya adalah ketika sungai Bengawan Solo itu banjir. Bagaimana nasibnya dengan kakaknya?

Cara yang tepat untuk membantunya hanya menghargai usaha yang telah dilakukannya untuk mencari rezeki. Setidaknya, ia mencari uang halal. Tidak mencopet atau mencuri. Anak kecil itu mengamen dari bis ke bis. Bernyanyi adalah hal yang terbaik yang ia lakukan untuk mencari rezeki. Kita hanya bisa menghargai usaha yang telah dilakukannya.

 

Catatan harian Peri Ai Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting